Festival Arakan Sahur Tanjab Barat Terancam Punah? Peserta Merosot Tajam dalam 3 Tahun Terakhir
SERAMBIJAMBI.ID, TANJAB BARAT – Di balik gemerlap lampu hias dan dentuman musik perkusi yang memeriahkan malam Ramadan di Kabupaten Tanjab Barat, terselip sebuah kekhawatiran besar. Festival Arakan Sahur yang menjadi ikon wisata religi nasional di Provinsi Jambi kini tengah menghadapi tantangan serius yakni penurunan jumlah peserta yang drastis dari tahun ke tahun.
Meskipun antusiasme masyarakat untuk menonton tetap tinggi, data kepesertaan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Festival yang sejatinya menjadi ajang pelestarian budaya ini seolah kehilangan daya pikat bagi kelompok kelompok pemuda dan remaja masjid di daerah tersebut.
Berdasarkan catatan kepesertaan dalam tiga tahun terakhir, angka partisipasi terus merosot tajam hingga menyentuh angka 50 persen dari total peserta dua tahun lalu, dimana di Tahun 2024 diikuti 18 kelompok Peserta, 2025 menurun menjadi 12 kelompok peserta dan Tahun 2026 hanya tersisa 9 kelompok peserta.
Penurunan ini memicu spekulasi mengenai masa depan Festival Arakan Sahur. Jika tren ini terus berlanjut tanpa ada evaluasi mendalam dan stimulus baru, tradisi yang telah mendarah daging bagi masyarakat Kabupaten Tanjab Barat ini dikhawatirkan akan kehilangan marwahnya atau bahkan terancam punah di masa depan.
Beberapa faktor diduga menjadi penyebab, mulai dari tingginya biaya operasional pembuatan gerobak hias arakan sahur, kurangnya regenerasi di tingkat pemuda maupun remaja masjid, hingga pola pembinaan yang mungkin perlu diperbarui agar tetap relevan dengan zaman.
Dibutuhkan perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Tanjab Barat, Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga, serta para pemangku kepentingan untuk membedah akar permasalahan ini agar kelompok kelompok pemuda kembali bergairah.
Festival Arakan Sahur bukan sekadar lomba, melainkan identitas budaya yang memiliki nilai ekonomi kreatif dan daya tarik pariwisata yang tinggi.