Mengubah Gulma Jadi Karya Hebat, Persit KCK Tanjab Siap Guncang Panggung ‘Persit Bisa 2’
SERAMBIJAMBI.ID, TANJAB BARAT – Di tangan kreatif Ny. Riko, anggota Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Cabang XXVI Kodim 0419/Tanjab, tanaman eceng gondok yang kerap dianggap sebagai gulma pengganggu perairan disulap menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Inovasi keranjang buah estetik ini kini terpilih menjadi produk unggulan yang akan mewakili Koorcab Rem 042 PD XX/Tuanku Imam Bonjol dalam ajang bergengsi nasional “Persit Bisa 2” di Jakarta.
Langkah ini sejalan dengan tren pertumbuhan UMKM di Kota Jambi yang mencapai 265 ribu pelaku usaha pada tahun 2025. Sektor UMKM terbukti menjadi tulang punggung ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan kesejahteraan keluarga, termasuk di kalangan keluarga prajurit TNI AD.
Sentuhan Tangan, Nilai Estetika Alam
Ny. Riko, yang merupakan istri dari prajurit Kodim 0419/Tanjab, memulai usahanya dari hobi dan keinginan untuk memanfaatkan potensi alam di sekitar Jambi. Ia melihat eceng gondok memiliki serat yang kuat dan fleksibel jika diolah dengan benar.
“Prosesnya memang tidak instan. Mulai dari pengambilan bahan baku, pengeringan, hingga teknik anyam manual, semuanya butuh ketelitian. Kami ingin menonjolkan sisi natural dan ramah lingkungan namun tetap fungsional sebagai wadah serbaguna,” ujar Ny. Riko.
Keunggulan produk keranjang buah ini terletak pada karakteristiknya yang kuat, unik, dan memiliki kesan mewah namun tetap earthy. Setiap anyaman bukan sekadar produk, melainkan representasi dari semangat kemandirian istri prajurit.
Menuju Panggung Nasional Persit Bisa 2
Dukungan penuh datang dari Ketua Persit KCK Cabang XXVI dan pembina Kodim 0419/Tanjab. Melalui pembinaan yang intensif, produk kerajinan ini kini tengah dipersiapkan untuk bersaing di tingkat nasional.
Ajang “Persit Bisa 2” merupakan wadah bagi anggota Persit di seluruh Indonesia untuk menunjukkan kreativitas, inovasi, dan potensi bisnis. Terpilihnya keranjang buah eceng gondok ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi wilayah Tanjung Jabung.
“Ini adalah peluang besar untuk memperkenalkan ikon lokal Jambi ke tingkat nasional. Kami ingin menunjukkan bahwa dengan kreativitas, hal-hal yang dianggap tidak berguna di lingkungan sekitar bisa menjadi karya hebat yang meningkatkan ekonomi keluarga,” tambahnya.
Filosofi Kemandirian di Balik Anyaman
Bagi Ny. Riko, menjalankan UMKM di tengah tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga adalah bentuk pengabdian. Meski menghadapi tantangan seperti fluktuasi pasar dan proses produksi yang memakan waktu, ia tetap konsisten memanfaatkan platform digital untuk pemasaran.
Kisah Ny. Riko adalah bukti nyata bahwa keterbatasan akses bukanlah penghalang selama ada kemauan untuk terus belajar. Dengan semangat “Mengubah Hobi Menjadi Passion”, kerajinan eceng gondok ini diharapkan dapat menginspirasi perempuan lain untuk lebih produktif dan jeli melihat peluang dari sumber daya alam lokal.
Melalui partisipasi di ajang nasional, produk ini diharapkan tidak hanya membawa nama baik satuan, tetapi juga memperkuat posisi kerajinan tangan Jambi di pasar industri kreatif Indonesia. (SJ)