Program Makan Bergizi Gratis, Sutejo: Momentum Kebangkitan Ekonomi Desa dan Solusi Stunting di Tanjab Barat
- account_circle Serambi Jambi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SERAMBIJAMBI.ID, TANJAB BARAT – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini mulai diakselerasi secara masif di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, memicu gelombang optimisme. Kebijakan strategis nasional ini tidak hanya dipandang sebagai solusi pemenuhan gizi, melainkan langkah krusial untuk mencetak generasi emas yang kompetitif dan bebas stunting.
Dukungan mengalir dari berbagai elemen masyarakat di Bumi Serengkuh Dayung Serentak Ketujuan, mulai dari orang tua murid, praktisi pendidikan, hingga jajaran legislatif. Mereka menaruh harapan besar agar program ini berjalan transparan dan menjangkau hingga pelosok desa serta kawasan pesisir yang selama ini memiliki tantangan akses gizi berkualitas.
Anggota DPRD Tanjung Jabung Barat, Sutejo, menekankan bahwa program MBG harus menjadi instrumen utama dalam meningkatkan kualitas kesehatan anak di daerah. Menurutnya, pemenuhan gizi di sekolah akan berdampak langsung pada peningkatan fokus dan kemampuan kognitif siswa dalam belajar.
“Harapan terbesar kita adalah melihat angka stunting di Tanjung Jabung Barat turun drastis. Selama ini ada ketimpangan prestasi antara anak di pusat kota dan wilayah pedalaman karena masalah asupan gizi. MBG diharapkan mampu memangkas jarak tersebut,” ujar Sutejo.
Sutejo juga menegaskan, Badan Gizi Nasional (BGN) bersama pemerintah daerah selaku motor penggerak harus memastikan kualitas menu yang disajikan. Ia menekankan bahwa standar kalori, protein, dan vitamin harus menjadi prioritas, bukan sekadar pemenuhan porsi makan kenyang semata.
Selain sektor kesehatan, program MBG dinilai memiliki potensi besar untuk menggerakkan roda ekonomi lokal. Melalui skema Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum di setiap wilayah, Sutejo mendorong agar bahan baku makanan wajib diserap dari petani, peternak, dan nelayan lokal.
“Program ini harus menjadi momentum kebangkitan ekonomi desa. Jangan sampai anggaran besar ini justru lari ke korporasi luar daerah atau importir. Kita ingin hasil bumi Tanjung Jabung Barat yang terserap, sehingga ekosistem ekonomi kerakyatan kita semakin mandiri,” tegasnya.
Di balik optimisme tersebut, implementasi di lapangan bukan tanpa tantangan. Kondisi geografis Tanjung Jabung Barat yang didominasi wilayah perairan dan kawasan pasang surut menuntut sistem distribusi logistik yang matang agar kualitas makanan tetap terjaga hingga ke tangan siswa di area terpencil.
Terkait hal tersebut, transparansi anggaran menjadi poin krusial. Sutejo memastikan bahwa pihaknya akan melakukan pengawasan ketat agar program ini berjalan akuntabel, tepat sasaran, dan terhindar dari praktik korupsi atau penyimpangan birokrasi.
“Transparansi dan pengawasan melekat adalah harga mati. Masyarakat berhak mendapatkan yang terbaik, dan kita harus memastikan misi besar untuk masa depan bangsa ini tidak terhambat oleh masalah teknis maupun penyalahgunaan wewenang,” tutup Sutejo.
- Penulis: Serambi Jambi

Saat ini belum ada komentar