Soal Pokir Pimpinan DPRD Kota Jambi Disorot, Kemas Faried: Bukan untuk Kepentingan Pribadi
- account_circle Redaksi
- calendar_month Senin, 10 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Soal Pokir Pimpinan DPRD Kota Jambi Disorot, Kemas Faried: Bukan untuk Kepentingan Pribadi
SERAMBIJAMBI .ID, KOTAJAMBI – Ketua DPRD Kota Jambi Kemas Faried Alfarelly angkat bicara terkait anggaran pokok pikiran (pokir) pimpinan DPRD.
Politisi yang dekat dengan masyarakat ini meminta persoalan tersebut tidak dipahami sebagai anggaran yang menjadi kewenangan pribadi anggota dewan.
Kemas Faried mengatakan, pokir merupakan bagian dari mekanisme DPRD dalam menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat untuk dimasukkan ke dalam perencanaan pembangunan daerah.
“Jadi jangan sampai berkembang menjadi multitafsir. Pokir itu pada dasarnya bukan untuk kepentingan dan dana pribadi dewan. Itu merupakan usulan perencanaan yang disusun dari awal melalui kegiatan reses dan turun ke lapangan untuk menampung aspirasi masyarakat,” ujar politisi Partai Golkar yang kerap menerima aspirasi dari masyarakat yang bukan daerah pemilihannya (dapil).
Menurutnya, aspirasi tersebut dapat berasal dari berbagai kebutuhan warga, mulai dari pembangunan jalan lingkungan, perbaikan drainase, infrastruktur permukiman hingga kebutuhan fasilitas lainnya.
Aspirasi yang disampaikan masyarakat kemudian menjadi bahan bagi DPRD untuk diperjuangkan dalam proses perencanaan dan penganggaran daerah.
Kata Kemas Faried, usulan tersebut tidak otomatis masuk menjadi program karena harus melalui pembahasan dan verifikasi bersama pemerintah daerah.
“Usulan dari RT dan masyarakat dituangkan dalam rencana APBD setiap tahunnya. Kemudian diverifikasi juga oleh pemerintah. Jadi tidak semua usulan yang disampaikan otomatis bisa direalisasikan,” katanya.
Dikatakannya, fungsi DPRD tidak hanya berkaitan dengan legislasi dan pengawasan, tetapi juga penganggaran.
Dalam fungsi tersebut, DPRD memiliki kewajiban menghimpun kebutuhan masyarakat dan memperjuangkannya dalam proses penyusunan APBD.
Ia mengatakan, pokir juga menjadi satu jalur untuk menampung aspirasi masyarakat yang belum terakomodasi melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
“Ada aspirasi masyarakat yang masuk melalui musrenbang, ada juga yang kami tampung melalui pokir. Ini bagian dari fungsi dewan dalam menghimpun aspirasi masyarakat,” ujarnya.
Menjawab soal besaran anggaran pokir masing-masing unsur pimpinan DPRD Kota Jambi, Kemas Faried nilainya tidak semestinya dilihat semata-mata dari angka yang melekat pada nama anggota dewan.
Besaran tersebut berkaitan dengan jumlah dan kebutuhan aspirasi yang telah dihimpun serta program yang kemudian masuk dalam perencanaan daerah.
Ia mencontohkan, setiap turun langsung ke tengah masyarakat, tidak sedikit warga menyampaikan kebutuhan pembangunan yang belum terakomodasi.
“Saya sering turun ke masyarakat. Banyak permintaan atau penyampaian masyarakat yang belum terakomodasi. Aspirasi itulah yang kemudian saya masukkan dalam program kerja atau pokir,” katanya.
Namun, kata Kemas Faried proses tersebut tetap berada dalam mekanisme penganggaran pemerintah daerah.
Artinya, pokir bukan cek kosong bagi anggota DPRD untuk menentukan sendiri penggunaan anggaran.
“Kami juga berkonsultasi dengan pemerintah mengenai kebutuhan masyarakat. Memang tidak semua program yang diusulkan bisa terealisasi,” tegasnya.
Berdasarkan data alokasi pokir yang diperbincangkan, total anggran pimpinan DPRD Kota Jambi mencapai sekitar Rp17,45 miliar dengan total 92 paket kegiatan.
Besaran tersebut menjadi perhatian karena terdapat perbedaan nilai maupun jumlah paket antarunsur pimpinan.
Namun, Kemas Faried menilai perbedaan tersebut harus dilihat berdasarkan kebutuhan pembangunan dan aspirasi yang masuk, bukan sebagai pembagian dana untuk kepentingan pribadi anggota DPRD.
Ia menegaskan, setiap program yang masuk dalam pokir merupakan bagian dari proses perencanaan pembangunan dan tetap harus mengikuti mekanisme pemerintah daerah.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar